tadi pagi aku nemu akun milik seorang influencer di bali yang suaminya bule, dan isi postingannya kebanyakan menyerukan tentang betapa pentingnya untuk para perempuan terutama yang masih sendiri dan belum nikah, untuk menemukan laki-laki yang bisa menafkahi, atau bahasa dia adalah laki-laki "provider".
tentu saja pandangan ini sama sekali ngga salah, dan pastinya banyak didukung oleh khalayak umum. apalagi konsep hidup berumah tangga di indonesia itu memang masih menganut nilai-nilai tradisional di mana seorang laki-laki memang fungsinya sebagai kepala rumah tangga yang tugas utamanya adalah menafkahi seluruh anggota keluarga termasuk istri dan anak-anaknya. udah begitu sejak jaman jebot!
jadi, ngga ada yang baru atau istimewa sebenernya.
karena memang di jaman sekarang ini semakin banyak perempuan mandiri yang memang lebih fleksibel dan ngga melulu menjadikan suami sebagai si pencari nafkah utama. bahkan banyak juga yang sebaliknya di mana justru si istri yang kerja dan suami yang jadi bapak rumah tangga!
salahkah?
ya engga juga kalau memang situasinya mengharuskan untuk seperti itu, dan keduanya oke-oke saja serta kehidupan rumah tangga mereka berjalan normal. tapi pastinya kalau ada istri yang jadi provider sementara suaminya jadi bapak rumah tangga, konsep ini ngga akan sesuai dengan prinsip si influencer tersebut, yang selalu menekankan kalau laki-laki itu harus mampu memenuhi segala kebutuhan pasangannya, tanpa diminta, cuma butuh dikode. bahasa dia sih begitu. hmm, menarik sekali kan. mengemas hal yang sudah umum dan lumrah, menjadikannya sebagai topik yang dibanggakan banget dan wow banget.
aku salut sih sama kemampuan dia untuk bisa menyajikan topik usang ini jadi topik yang menarik.
kalau diamati, sebetulnya pergeseran prinsip ini sudah ada dan akan selalu ada di semua generasi. jaman dulu, ketika perkembangan teknologi belum semaju sekarangpun sebetulnya sudah banyak juga perempuan-perempuan yang engga melulu mengandalkan si laki-laki sebagai satu-satunya sumber pencari nafkah di keluarga. apalagi sekarang, sejak era teknologi sudah semakin canggih, makin banyak perempuan yang juga berpenghasilan, bahkan tak jarang justru malah si perempuan ini yang menghasilkan jauh lebih banyak dibanding laki-lakinya.
apakah lalu fungsi laki-laki sebagai provider menjadi terjungkir balik?
bagaimana bagi mereka-mereka para perempuan yang posisinya sangat tinggi dan berhasil mencapai titik karir dalam hidupnya yang sudah ngga mungkin dilampaui oleh suaminya? contohnya mantan perdana menteri selandia baru jacinda ardern yang berada di posisi tersebut di usia yang cukup muda. pastilah dia gajinya jauh di atas suaminya. lalu ada margareth thatcher mantan perdana menteri inggris dan angela markel di jerman. itu cuma beberapa contoh di kalangan politisi papan atas.
mari beralih ke dunia selebriti. banyak sekali contohnya pasangan-pasangan selebriti yang si istri berpenghasilan jauh di atas penghasilan suaminya. sebut saja mbak inul daratista si artis dangdut ngebor itu. trus ada juga influencer-influencer cewek di indonesia yang followernya banyak berpenghasilan fantastis dan artis-artis cewek lain yang suaminya penghasilannya jauh di bawah istrinya. cari aja sendiri contohnya yah aku udah ngga apal nama-namanya hehe.
yang kelas dunia, mau contoh terbaru? taylor swift yang setelah selesai era tour jumlah duitnya masuk dalam jajaran salah satu top artis berpenghasilan terbesar di dunia, hartanya senilai lebih dari 2 milyar dolar amerika, sementara calon suaminya si travis? hartanya cuma 90 juta dollar doank!
jauh banget kan? jomplang banget kan?
kalau situasinya seperti itu, yang provider yang mana donk? taruhlah pake prinsip si mbak influencer di atas tadi. si travis pastilah kudu jadi provider. tapi ya apa mau si taylor tinggal di rumah yang lebih murah dari rumahnya sekarang karena calon suaminya bisanya cuma beli yang harganya lebih murah dibanding kemampuan atau daya beli dirinya sendiri? ya pastinya si taylor lah yang keluar duit buat beli rumah yang nyaman buat keduanya ya kan? dan bukan berarti juga suaminya engga modal atau mokondo. karena memang keduanya berpenghasilan beda, dan bedanya jauh banget!
meski 90 juta dollar juga engga sedikit, dan kalau si travis dulu engga jatuh cinta sama taylor dan cuma ketemu sama cewek biasa aja, ya pasti situasinya si travis ini akan jadi provider yang lumayan tajir juga buat si cewek. ini contoh ekstrim sih ya, karena memang taylor ini tajir banget jadi kalau mau nyari suami yang jauh lebih tajir dari dia, di daftar cuma ada mr beast (yang udah punya calon sendiri) sama elon musk doank (yang udah gonta ganti istri). ini kupilihin yang lumayan ganteng ya, soale lainnya di daftar udah tua-tua semua meski kaya raya.
dan pastinya si taylor ngga bakalan mau juga sama mereka 😁
contoh yang agak kurang ekstrim, biasanya yang mendekati separo-separo. karena rumah tangga itu memang kesepakatan dua orang untuk hidup bareng selamanya, idealnya kan begitu. jadi untuk membangunnya, ya kudu dilakukan sama-sama. meski ngga kudu harus sama persis 50:50 dalam kontribusi. ada yang cuma 10:90, atau 30:70 atau 40:60, semuanya boleh, semuanya sah. yang bahaya itu kalau 0:100 sebenernya, di mana sumber penghasilan cuma dari satu pihak saja. bahayanya ya kalau satu-satunya sumber pendapatan di keluarga itu tiba-tiba macet karena si provider nya jatuh sakit parah atau meninggal.
keluarga yang cuma menggantungkan nafkah dari satu sumber doank kan jadi sulit kondisinya.
kalau pihak istri yang dinafkahi meskipun ngga berkontribusi tapi tetep bisa cari duit sendiri sih ngga papa. si mbak influencer inipun sepertinya begitu. dia dinafkahi tapi tetep masih bisa cari duit dari ngonten kan, keknya dia kerja juga deh. tapi mungkin semua gajinya dipake sendiri, atau disimpan sendiri karena semuanya sudah dikasih sama pasangannya. ya itu oke-oke saja. dan memang sebaiknya seperti itu, supaya perempuan itu tetap berdaya walaupun ada sumber nafkah dari pasangan.kesimpulannya apa?
boleh-boleh saja kok punya prinsip kudu nyari yang provider lah apalah. tapi kudu inget juga, engga semua situasi bisa terjadi seperti itu. banyak pula perempuan yang jadi provider dan itu sah-sah saja. jadi jangan mentang-mentang situasi dia dapet suami yang provider, lalu semuanya kudu ngikut kayak situasi dia gitu. engga harus ya, dan kalian yang masih sendiri juga jangan lantas berpatokan strict kayak gitu.
rileks dan fleksibel saja. kalau dapetnya yang 100% provider ya sukur apalagi yang tajir melintir, tapi kalau ketemu jodohnya yang biasa-biasa saja dan kedua pasangan kudu tetep kontribusi supaya bisa mencapai tingkat kehidupan yang layak dan nyaman buat sekeluarga, ya ngga masalah. it's not the end of the world gitu lho.
aku sendiri menganut prinsip tengah-tengah.
aku ngga mau semuanya kudu dikasih atau disediakan. trus aku cengok donk 😂 karena sejak awal juga aku maunya tetep kerja, berkarir, berkarya, dan menghasilkan. tentunya aku lalu dihadapkan pada dua pilihan. kalau misalnya cuma suami yang sediain semua, pastinya aku ngga akan bisa tinggal di rumahku yang segede dan senyaman sekarang. karena pendapatan suami meskipun lebih gede dari gajiku, tapi kalau cuma dia yang jadi sumber penghasilan, ya pastinya rumah kami akan kebeli yang ukurannya separo dari ukuran rumah sekarang donk.
makanya aku harus berkontribusi, supaya kami bisa tinggal di rumah yang lebih besar dan luas, serta hidup senyaman yang kami pengin seperti sekarang ini. untuk mencapai itu aku kudu ikutan menyokong ke cicilan harga rumahnya. kalau ngga gitu, ya gajiku ngga kepake alias bisa kutabung sendiri tapi rumahku bakalan kecil. ogah lah buat apa aku kerja tapi ngga nikmati hasil, yekan? kalau ikutan kontribusi kan sekarang kami bisa tinggal di rumah yang luas dan nyaman. itu cuma salah satu contoh kontribusiku dalam hal berumah tangga.
di hal-hal lain juga pastinya kami punya aturan kami sendiri.
sekali lagi, tentu saja ini ngga akan sesuai dengan prinsip laki-laki provider yang digaungkan sama si mbak influencer yang rumahnya pun dibeliin sama pasangannya itu. ya memang rumah di bali pasti akan kebeli kontan sih sama bule, coba suruh beli rumah di luar negeri, akan lain lagi ceritanya, hihi. tapi ya ngga papa. kan memang ngga harus sama semua. dia hepi dengan prinsipnya, akupun hepi dengan prinsipku.
gitu aja ya 😍
