Monday, 22 June 2026

kena prank

kali ini kita bahas tentang nikah sama bule dari sisi keuangan, yuk?!

ide tulisan ini bermula ketika aku lihat video yang diposting oleh salah seorang diaspora influencer yang pengikutnya lumayan banyak. katanya si ibu ini sering banget dapet curhatan dari para diaspora lainnya, yang setelah nikah sama bule, ngerasa kalau mereka itu pada "kena prank" 😂

lho, kok ternyata ngga sesuai ekspektasi ya, kirain tadinya pas kenal, lalu pacaran dan mau nikah sama bule itu bakalan begini begitu. setelah kejadian kok ternyata ngga begini dan ngga begitu, hehe. lucu juga sih kalau situasinya jadi kayak kena prank. padahal sebenernya yang terjadi ya engga demikian.

ini ngomongin apa sih? 

gini lho. ternyata masih banyak ya, cewek indonesia yang belum paham sepenuhnya tentang hubungan pasangan beda negara dan beda ras. dipikirnya, semua orang di seluruh dunia itu hidupnya sama persis semua kek kalau kita hidup di indonesia. padahal harusnya sih udah paham ya kalau beda tempat itu beda tradisi dan beda kebiasaan. termasuk soal bagaimana sebuah keluarga atau dalam hal ini pasangan suami istri, dalam mengelola keuangan.

hal ini udah pernah kubahas sih, dulu banget, di tulisan berjudul "joint account" di tautan ini dan berjudul "setor gaji" di tautan ini. meski aku ngebahasnya dari sini lain, yaitu dari sudut pandang yang aku dan suamiku lakukan sejak nikah. eh, ternyata topik ini muncul lagi di mana sekarang dilihat dari sudut pandang para diaspora yang tadinya engga tau dan belum paham, jadi ngerasa kena prank sama suami-suami wna mereka, hihihi.

di kedua tulisan lamaku itu, yang kutulis 2 tahun lalu dan satunya lagi lumayan lama dari jaman baheula, tepatnya tahun 2012 atau sekitaran 14 tahun yang lalu ini, aku menggarisbawahi bahwasanya memang kondisi cara pengaturan keuangan tiap pasangan itu selalu beda-beda. meskipun secara garis besar, pasangan indonesia lebih ke budaya "suami setor gaji dan istri jadi bendahara", sementara di budaya luar lebih mengarah ke suami pegang kendali sendiri, dan ngasih ke istri buat keperluan saja, engga yang setor semua 100% seperti di indonesia. 

pastinya akan selalu ada perkecualian, ya. 

jangan ngegas ya, kalau ada yang nikah sama bule tapi pake sistem seperti di indonesia, atau sebaliknya. semua sah-sah saja engga ada salah atau benar. itu kan cuma soal manajemen keuangan rumah tangga aja, jadi mau pake sistem barat kek, asia kek, kutub utara kek, bebas. yang penting berjalan lancar dan semuanya hepi. suami hepi, istri hepi, rumah tangga sejahtera.

nah, masalahnya kan tadi para istri bule diaspora ini pada mikirnya kalau mereka udah nikah dan bersuamikan bule itu bakalan otomatis pegang kendali keuangan dan jadi bendahara seperti halnya kebanyakan para istri-istri di indonesia. eh, begitu setelah nikah lha kok duit suami masih dipegang sendiri? kok engga disetorkan semuanya ke istri? kok engga jadi menjabat jadi bendahara keluarga? kok beda ya? pada bingung deh. 

kena prank ini namanya, hihi.

mungkin mikirnya waktu pada masih pacaran sebelum nikah, udah ngebayangin nanti kalau nikah bakalan pegang gaji suami yang pastinya bukan mata uang rupiah lagi. bisa dollar atau euro atau poundsterling. wuihhhh, banyak pastinya yah kalau dirupiahin. gilak, dijamin kaya mendadak nih abis nikah hehe. pemikiran ini mungkin yang lupa untuk dibicarakan atau didiskusikan ketika masih pacaran. ditambah lagi, soal finansial bagi sebagian besar orang kan memang masih jadi topik yang tabu dan sulit untuk jadi bahan diskusi. apalagi kalau status masih belum nikah. bisa-bisa didakwa mau ngerampok gaji suaminya doank, alias dicap mata duitan. kalau dia mundur, malah ngga jadi nikah gimana donk.

makanya ngga heran kalau banyak yang ngerasa kena prank karena begitu resmi jadi suami istri, lho kok si suami gajinya masih dia pegang sendiri? 

mau diminta? ihh, gimana mintanya? kalaupun akhirnya berani minta sekalipun, rata-rata pihak suami yang notabene orang luar dan engga kenal budaya "istri jadi bendahara" ala indonesia, pastinya bakalan ngerasa aneh dan risih dengan konsep yang engga biasa di budaya mereka. meski ada satu dua yang menjalankan sistem ala indonesia mungkin jumlahnya jauh lebih sedikit. bisa jadi mereka udah kenal budaya indonesia, atau memang ya udahlah ngga papa semua duit disetor ke istri biar dia yang atur.

nah, bagi sebagian besar lainnya, yang memang budayanya tetap pegang finansial masing-masing, mungkin jadi kagok, apalagi kalau si istri engga berpenghasilan sendiri. jadi semua keperluan kudu tetap minta ke suami, sementara suaminya yang tetap pegang kendali keuangan. semua jadi terbatas ya kalau kondisinya begini. mau apa-apa selalu harus minta dulu. kurang bebas dan kurang fleksibel. parahnya, kalau suaminya lalu menjadikan ini sebagai alat kontrol, masuknya bisa jadi financial abuse lhoh. panjang ceritanya kalau udah begini. karena itu termasuk salah satu elemen kdrt. 

kalau yang meski suaminya tetap pegang kendali pemasukan gaji tapi segala kebutuhan istrinya dipenuhi, bahkan dimanja dengan semua fasilitas dan jatah duit yang terus mengalir lancar dan deras, ya bagus. terutama kalau si istri engga berpenghasilan sendiri, tapi hidupnya tetap terjamin dan berkelimpahan.

kalau yang istrinya kerja sendiri juga ada dua kemungkinan. yang berkontribusi ke kebutuhan rumah tangga, dan yang engga ikutan kontribusi meski dia juga punya duit sendiri. banyak lah ya kombinasi situasi rumah tangga itu. semua pasti beda-beda dan unik.

tapi pake sistem pengaturan keuangan yang model manapun itu, asalkan kehidupan mereka baik-baik saja dan sejahtera, harusnya sih engga masalah. dan meski mungkin si istri yang ngga dikasih setoran semua gaji suami akan tetap ngerasa "kena prank" setelah nikah karena gagal jadi bendahara, yang lebih penting hidupnya tetap terjamin. 

daripada istri-istri di indonesia yang disetorin gaji suaminya 100% dan otomatis jadi bendahara setelah nikah, etapi nominalnya masih umr bekasi. malah bingung ini gimana duit cuma segitu supaya bisa cukup untuk semua kebutuhan dalam 1 bulan? mending ngga usah jadi bendahara sekalian deh, kalau gaji yang disetor gaji umr. yang ada malah pusing doank.

kaga cukup buat hidup sebulan, hiks 😥

Friday, 19 June 2026

hijau miskin

waduhhhh.....

kenapa orang indonesia itu kocak-kocak banget siyyyy. setelah viral lagu mbg! mas bahlil ganteng, buah apa yang paling manis, buah-lil! tambah ganteng... whuahahaha.... eh sekarang ada lagi yang aku baru ngeh betapa kocaknya indonesia, yaitu soal warna. yang ternyata selain ada hijau lumut, hijau daun, hijau muda dan hijau tua, ada juga warna hijau miskin serta ungu janda, bwahahahaaaaa 😂

kemarin aku nemu postingan di thread lagi-lagi soal pasangan campuran, yang cewek indonesia pacaran sama cowok bule trus foto-foto diupload niatnya pamer ke sosmed. eh malah dirujak sama netizen, bwahaha. memang kejam-kejam sih netizen indonesia kalau dipikir-pikir, hihi. gara-garanya pas pamer-pamer foto sama cowok bulenya, latar belakang foto itu di semacam kamar kos-an gitu lah. dan cat temboknya warnanya hijau gonjreng. eh ternyata sama netizen warna hijau seperti itu dibilangnya hijau miskin! 

ngakak 😂

Thursday, 18 June 2026

jadi pilot

akhirnya kesampaian juga jadi pilot!

hah?! pilot apaan?! bolpoint merk pilot? hehe. pilot beneran donk. alias nyetir pesawat. meski pesawatnya cuma pesawat terbang layang tak bermesin. inget ngga, tepatnya satu tahun lalu, aku pernah nulis tentang beberapa keinginan yang pengin kucoba pas umurku mau memasuki kepala lima, di tulisan berjudul skydive ini? kalau belum baca, sok atuh dibaca dulu tulisan lamanya, sebelum nyambung ke tulisan ini.

bulan desember lalu memang jadi tonggak bersejarah dalam hidupku karena usiaku menginjak setengah abad. dan aku memang niat waktu itu, untuk nandain umur kepala limaku ini dengan mewujudkan beberapa keinginan yang radikal dan agak luar biasa, supaya bisa terwujud. salah duanya dengan melakukan terjun payung atau skydive, dan terbang layang atau gliding.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...